
JAKARTA, 1kata.com – Di tenga pasar otomotif yang masih stangnan, PT Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) mencatatkan pembiayaan motor baru sebesar Rp10,7 triliun atau tumbuh 23% MtM hingga Oktober 2025 ini.
Menurut Chief of Financial Officer (CFO) Adira Finance, Sylvanus Gani, tantangan itu membuat kompetisi antar perusahaan pembiayaan menjadi semakin ketat. Meski begitu, perusahaannya mampu mencatatkan kinerja yang baik dalam pembiayaan sepeda motor.
Hal tersebut tercermin dari data per Oktober 2025 yang memperlihatkan penyaluran pembiayaan sepeda motor baru mampu tumbuh double digit sebesar 23% secara bulanan (month to month/MtM).
“Hingga Oktober 2025, pembiayaan sepeda motor baru perusahaan mencapai Rp10,7 triliun. Secara YoY, pembiayaan sepeda motor baru mengalami pertumbuhan single digit,” kata Sylvanus Gani, kepada Bisnis, Senin (24/11/2025) lalu.
Berdasarkan data hingga Oktober 2025, jenis motor jetmatic atau scootermatic mendominasi portofolio pembiayaan motor dengan kontribusi sebesar 90%.
Gani menyebut, secara umum tidak ada perubahan signifikan dalam preferensi konsumen dalam beberapa bulan terakhir. Kemudian, dalam beberapa bulan terakhir, dia berujar tidak terdapat perubahan yang signifikan terkait preferensi konsumen terhadap metode pembayaran cicilan.
Adapun, lanjutnya, secara keseluruhan rasio non-performing financing (NPF) Adira Finance per Oktober 2025 masih terjaga dengan baik pada level 2,0% dan menunjukkan tren penurunan sejak Juni 2025.
“Sejalan dengan hal tersebut, NPF untuk segmen sepeda motor juga mengalami tren membaik,” sebut Gani.
Dia meneruskan, untuk menjaga NPF perusahaan, Adira Finance memberikan pembiayaan yang tersegmentasi sesuai dengan risk appetite perusahaan dan juga memastikan kegiatan collection dilakukan secara efektif untuk mengurangi potensi kredit macet.
Sementara itu, untuk menjaga agar pembiayaan sepeda motor tetap berada pada tren positif, perusahaan menerapkan tiga strategi utama seperti terus mengoptimalkan potensi penjualan melalui jaringan distribusi yang luas, termasuk memperkuat penetrasi di wilayah-wilayah dengan potensi pertumbuhan yang masih tinggi.
Cara kedua adalah meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan mulai dari proses aplikasi hingga after sales, agar mampu mempertahankan loyalitas sekaligus menarik pelanggan baru.
“Serta menjalankan proses underwriting secara disiplin untuk memastikan kualitas portofolio dan menjaga risiko tetap terkendali di tengah dinamika pasar,” pungkasnya.
Penulis: CR-19
Editor: m.hasyim
Foto: istimewa


