Indef: Coba Lockdown Akhir Pekan

Foto: antara

JAKARTA, 1kata.com – Pemerintah disarankan mencoba wacana kebijakan yang tengah beredar di publik, yaitu penguncian wilayah (lockdown) pada akhir pekan.

Kebijakan tersebut layak dicoba meski mungkin dampaknya tidak akan seefektif bila pemerintah melakukan lockdown total dengan masa inkubasi 7-14 hari.

“Setidaknya, wacana ini tidak mengganggu sektor industri dan bisnis,” kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, dalam diskusi virtual bertajuk Covid-19 Meningkat, Ekonomi Melambat, Minggu (7/2//2021).

Wacana lockdown akhir pekan mengemuka di tengah berbagai kebijakan pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat yang selama ini dianggap tidak efektif mengerem penyebaran virus corona.

Pemerintah diketahui sempat menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan dilanjutkan dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Tapi jumlah kasus baru per harinya masih terus meningkat. Bahkan mencetak rekor baru di tengah penerapan kebijakan tersebut.

Kendati begitu bila wacana lockdown akhir pekan itu jadi diterapkan, Tauhid mewanti-wanti pemerintah terkait distribusi barang. Menurutnya, pemerintah harus bisa menjamin distribusi barang dan logistik tetap berjalan.

Pun dengan pengendalian pandemi melalui testing, tracing, dan treatment (3T), Tauhid menyarankan pemerintah untuk tetap melakukannya secara masif. Tak ketinggalan soal protokol kesehatan pencegahan Covid-19 meliputi menggunakan masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan (3M).

Namun di sisi lain, Tauhid mengakui bahwa kebijakan lockdown akhir pekan menyimpan kelemahan, yakni membutuhkan ongkos yang mahal. Salah satunya adalah ongkos berupa risiko penurunan ekonomi yang lebih dalam.

Sumber: CR-02
Editor: m.hasyim
Foto: antara

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below