
MAKASSAR, 1kata.com – Rekrutmen anggota Satpol PP yang tidak mempunyai standarisasi pada masing-masing daerah menjadikan pola kinerjanya tidak seragam.
Sehingga ketika mengimplementasikan kinerja yang seharusnya menjunjung tinggi norma hukum, norma agama, hak asasi manusia dan norma-norma sosial lainnya akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, lingkungan, tingkat ekonomi, dan peran atasan.
“Karena mayoritas anggota Satpol PP dari tingkat ekonomi dan pendidikan lapis bawah maka yang muncul adalah kecenderungan semangat ”premanisme”, kata Suryana, warga Kota Makassar, Rabu (10/8/2016).
Kewenangan yang dipunyainya berubah menjadi aroganisme ketika tindakan yang dilakukan menjurus pada brutalistis karena merasa mempunyai kewenangan sebagai ”penguasa”,
Seperti halnya perekrutan Personil Satpol PP Makassar, yang direkrut dari kalangan preman lorong, yang mempunyai catatan buruk dan kriminalitas yang pernah dilakukannya,
Hal tersebut didasari Sikap arogan dan angkuh yang diperagakan beberapa satpol PP Makassar setiap berlangsung penggusuran atau penertiban, selalu diwarnai dengan adegan pengusiran paksa, pemukulan, menendang dan menganiaya warga masyarakat secara tak manusiawi.
Bahkan akhir-akhir ini mereka sudah berani menampakan arogansi dan melawan terhadap aparat kepolisian bahkan membunuh aparat tersebut, sangat dikhawatirkan selain karena pengaruh Minuman Keras, juga karena dalam sistem perekrutannya disinyalir merekrut kalangan Premam Lorong.
“Anggota Satpol PP yang biasa nongkrong di anjungan itu, preman di Kampung, sudah sering terlibat pidana, Dia itu yang teriaki Polisi dan mengancam,”ungkap salah satu warga di kawasan Anjungan Losari.
Seperti diketahui, dua polisi itu masuk ke anjungan Pantai Losari dengan untuk mencari pelaku pelemparan. Saat itulah anggota Satpol PP menegur mereka dengan bahasa kotor.
Mendengar itu, anggota polisi tersebut berhenti dan inginberbicara dengan anggota Satpol PP.
“Tapi anggota Satpol PP itu langsung menarik kerah baju seragam anggota polisi. Di situlah terjadi pengeroyokan,” kata Wati, warga sekitar anjungan Pantai Losari
Sumber: CR-09 | editor: m.hasyim


