
Aku hanya bisa termenung siang itu di pinggir Pasar Mantingan, Ngawi, Jatim. Tidak ada yang istimewa. Semua sama seperti bulan kemarin, minggu kemarin, dan kemarin. Sepi.
Jalan raya Mantingan yang menghubungkan Kota Solo ke Kota Ngawi itu seperti tidak menawarkan kehidupan bagiku. Sepeda motorku yang dari tadi aku tongkrongi, juga belum ada yang naik. Inilah susahnya jadi tukang ojek di kampung.
Tapi menurutku, Mantingan bukanlah kampung. Mantingan sudah menjadi sebuah kota kecil. Lihat saja, di kota kecil yang tepat di berbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini, ada empat kantor bank pemerintah dan swasta.
Di Mantingan ini juga ada satu SPBU, tiga supermarket dan satu pasar tradisional. Belum lagi warung sate dan toko-tokonya. Mantingan sudah ramai dengan aktivitas ekonomi yang baik. Tapi siang ini semuanya tak sebaik nasibku. Mantingan sepi.
“Jo, Bejo. Ada yang cari ojek tuh,” teriak Mas Dayun, pemilik toko dekat tempatku mangkal.
Aku kaget bercampur senang. Lagi enak-enak melamun begini tiba-tiba dikejutkan adanya penumpang. Tapi penumpang ini yang aku tunggu dari tadi.
Ternyata, seorang gadis. Ia memakai tas ransel di punggungnya dan menenteng sebuah tas kecil. Ranselnya sepertinya berat. Tapi aku gak peduli. Gadis itu berkacamata, rambut dikuncir ekor kuda, mengenakan jaket tipis yang dipadu celana jeans dan sepatu olahraga. Gaya yang simpel dan tomboy.
“Ojek, mas?” tanyanya padaku.
“Ya, ya, ya…” jawabku tergagap. Aneh, aku tersihir oleh gaya sederhananya.
“Mau ke mana?” tanyaku, sambil menyiapkan motor.
“Ke Tambakboyo. Berapa, mas?” tanyanya.
Aku yang masih terpengaruh kecantikan gadis ini jadi semakin bingung mau menjawabnya. “Emm, dua lima, mbak,” kataku.
“Gak bisa dua puluh aja?” gadis itu menawar.
“Oke,” jawabku pendek.
*****
“Namaku Wiwin,” kata gadis itu, sambil memperbaiki posisi duduknya di jok belakang motorku. “Aku anaknya Pak Lurah Tambakboyo,” katanya menjelaskan.
“Aku Bejo. Tukang ojek,” kataku pendek. “Kok aku gak pernah ngeliat kamu, aku hafal siapa saja yang turun dari bus dan naik ojek di sini,” kataku menyombongkan diri.
“Aku jarang lewat Mantingan sini, aku lebih suka lewat Gondang dan Sragen. Lebih cepat ke Solo,” katanya, memberikan alasan.
Perjalanan yang jaraknya sekitar lima kilometer itu terasa sangat dekat. Karena kita seperti sudah saling kenal lama.
Akhirnya aku belokkan motorku ke gang rumah Pak Lurah Tambakboyo.
“Kok kamu tahu rumahku?” tanyanya.
“Siapa sih yang nggak tahu rumah gadis secantik kamu, anak Pak Lurah lagi,” jawabku asal saja.
“Gombal kamu, Jo,” katanya sambil mencubit pinggangku.
Aku tertawa kecil sambil menahan sakit. Aku masukkan motorku sampai di depan gerbang rumah besar itu. Kita sempat bertukar nomor hape sebelum aku pergi.
“Ada WA-nya kan Jo, nanti aku hubungi kalau aku perlu bantuanmu,” kata Wiwin lagi.
“Ada, siiiipp,” jawabku. Aku masih sempat mencuri pandang ke wajah gadis ini. Wiwin memang cantik.
*****
Untuk kesekian kalinya aku mengantar Wiwin. Bukan cuma di sekitar Mantingan saja, namun juga ke Ngawi, Sragen dan Solo. Hubungan kami cukup akrab, bahkan sangat akrab.
Teman-teman ojekku juga sudah tahu kalau Wiwin adalah langgananku. Menurut mereka, Wiwin bukan cuma langganan, tapi lebih. Ternyata, aku sendiri juga merasakan kalau Wiwin lebih dari sekedar langganan ojekku. Itu kelihatan dari cara dia bercanda, cara dia menyentuhkan dan cara dia memandangku.
Ah, apakah aku memendam rasa terhadap Wiwin? Aku sendiri bingung. Tapi sepertinya aku pingin selalu dekat dengan dia. Aku tak ingin jauh-jauh sama dia. Selama dua bulan kedekatanku dengannya, sepertinya dia juga mengetahui kalau aku memendam rasa dengannya.
Bahkan minggu kemarin saat kita makan bareng di Solo, Wiwin terus terang mengucapkan rasa senangnya bisa dekat dengan aku. Menurutnya, aku sangat membantu dia.
“Makasih, ya Jo. Kita bisa dekat seperti ini. Kamu sangat membantu aku. Aku seneng dengan kedekatan ini,” katanya, waktu itu.
“Aku juga seneng kok,” kataku pelan, sambil tersenyum ke arahnya. Hatiku waktu itu berbunga-bunga.
Saking senengnya, kebersamaanku dengan Wiwin iku aku ceritakan ke sesama tukang ojek dan anak-anak muda Mantingan. Semua mendukung kedekatanku dengan Wiwin.
Cuma Mas Aris yang berani mengingatkanku. “Jangan terlalu senang, Jo. Inget, siapa dia, siapa kamu. Ntar kecewa,” kata Mas Aris, saat kita makan bakso di warung Kakek Harno, dua hari kemarin.
******
Aku hanya bisa menunggu siang itu di pinggir Pasar Mantingan, Ngawi, Jatim. Aku menunggu kedatangan Wiwin dari Solo. Dia sudah mengirim pesan mau datang ke Mantingan siang ini.
Biasanya Wiwin naik bus Mila atau Sumber Kencono dari Solo. Bus Mila biasanya tiba di Mantingan jam dua siang. Bus Sumber Kencono jam tiga. Sekarang baru jam satu seperempat. “Ah, masih lama,” kataku dalam hati.
Sambil meneguk es buah buatan Mas Marsono, aku sesekali melongok ke arah Barat. Memastikan apakah ada bus yang mengarah ke Pasar Mantingan.
“Nunggu langganan yang cantik itu, Jo? Pantesan dandananmu keren,” kata Mas Marsono setengah meledekku.
Aku gak menjawab. Hanya tersenyum.
Tak lama, bus Mila terlihat meluncur dari arah Barat. Aku tersenyum kecil dan segera mengambil posisi di tempat biasa bus berhenti. “Mas, bayar esnya nanti saja,” kataku ke Mas Marsono.
Bus Mila berhenti di depan pasar dan menurunkan tiga penumpang, semuanya laki-laki. Wiwin ternyata tak ada. Aku setengah kecewa, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa aku menunggu bus Sumber Kencono.
*****
Akhirnya yang aku tunggu datang juga. Semyum manis dari bibir Wiwin nampak setelah ia turun dari bus. Wiwin turun bersama teman cowoknya.
Ada rasa cemburu di dadaku. Tp ah, itu hanya perasaanku saja.
“Mas, Jo. Kenalkan, ini Mas Wawan,” kata Wiwin.
Aku mengangguk dan menyalaminya. Kita langsung ke Tambakboyo ke rumah Wiwin menggunakan dua ojek. Selama perjalanan, Wiwin banyak cerita, tapi aku tak terlalu tertarik dengan cerita itu. Aku lebih tertarik dengan siapa dan mengapa cowok itu mau ke rumah Wiwin.
Sampai akhirnya kita semua masuk ke halaman rumah Wiwin. Suasana lebih ramai, banyak anggota keluarganya yang kumpul.
Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba seorang ibu menyambut Wiwin. “Oalah, mbak-mbak. Mosok calon manten kok naik ojek lho. Calonnya mbak yang mana, Mas Wawan mana?” tanya ibu itu.
“Ada bu, di ojek satunya,” jawab Wiwin pendek.
Obrolan itu sederhana, pendek. Tapi seperti kilat menyambar telinga dan hatiku. Ah… (*)


