
JAKARTA, 1kata.com – Masyarakat diminta lebih menungkatkan kewaspadaan, karena serangan siber diprediksi akan semakin menggila.
Warning ini disampaikan Ian Lim, Field CSO (Chief Security Officer) Palo Alto Networks untuk wilayah Asia Pasifik (APAC).
Palo Alto Networks adalah perusahaan keamanan siber asal Amerika yang saat ini tengah memantau ketat potensi terjadinya peningkatan serangan siber, terutama di wilayah Asia Pasifik.
“Ada banyak inovasi teknologi yang luar biasa saat ini berkembang. Namun selalu ada celah yang dicari peretas untuk mendapatkan keuntungannya,” kata Ian dalam sebuah diskusi online, belum lama ini.
Baca juga: Ekonomi Kreatif Jadi Lokomotif Baru Pengembangan Ekonomi
Maka dari itu, lanjutnya, prediksi yang didasarkan analisis kami penting untuk diketahui dan menjadi perhatian bagi banyak pihak.
Ia menambahkan, Asia Pasifik menjadi perhatian utama dikarenakan beberapa negara di wilayah ini cepat sekali mengadopsi teknologi baru.
Seperti misalnya adopsi konektivitas 5G di Singapura. Saat ini negara tetangga kita itu sudah meng-cover 95% wilayahnya dengan 5G, lebih cepat dua tahun dari target regulasi yakni di 2025.
Menurut Ian, serangan terhadap jaringan 5G sangat mungkin terjadi dikarenakan operasionalnya berbasis cloud yang rentan dari segi keamanan.
Baca juga: MD Pictures dan MAXstream Sajikan Konten Hiburan Digital
“Serangan skala besar bisa datang dari mana saja, bahkan dari dalam jaringan operator,” kata Director Industry 4.0 Palo Alto Networks Japan & APAC, Alex Nehmy.
Berikut ini serangan keamanan siber yang diprediksi bakal terjadi di tahun 2023 ini:
Teknologi medis
Sejak pandemi Covid-19 teknologi membantu membentuk ekosistem perangkat medis. Di sini ada celah dimana peretas bisa mencuri data-data pasien.
Cloud terkait dengan bisnis
Banyak perusahaan dan bisnis memanfaatkan cloud agar pekerjaan lebih mudah diakses setiap saat. Hanya saja karena cloud menggunakan kode open source, berpotensi besar mengalami peretasan.
Baca juga: Bridgestone Resmikan Paramita Ban Denpasar
Privasi dan perlindungan data
Ada anggapan data pribadi dan rahasia dapat diakses untuk digunakan dan dibagikan. Perlu kehati-hatian saat diminta memberikan informasi dengan alasan untuk analisis perilaku, strategi iklan, pengawasan dan tujuan lainnya.
Teknologi metaverse
Berbagai serangan yang mungkin terjadi antara lain pencurian kekayaan dengan metode social engineering, eksploitasi identitas digital, serta masalah teknis terkait aplikasi dengan kerentanan kebocoran data.
Sehubungan dengan prediksi tersebut, Palo Alto Networks membagikan kiat antisipasi serangan terhadap keamanan siber berikut:
“Manfaatkan kecerdasan buatan (AI) yang berfokus pada pencegahan serangan,” katanya.
Ia menambahkan, aplikasikan strategi dan arsitektur zero trust. Serta yang paling penting adalah membangun resiliensi untuk mampu menanggapi dan memulihkan diri pasca terkena serangan.
Sumber: CR-03
Editor: m.hasyim
Foto: istimewa


