
JAKARTA, 1kata.com – Kasus penipuan digital (scam) terus mengalami peningkatan, mengacu pada laporan Global Anti-Scam Alliance scam ini telah menimbulkan kerugian hingga Rp7,5 triliun di Indonesia.
Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) meminta seluruh operator telekomunikasi memperkuat perlindungan konsumen dengan menghadirkan fitur anti-scam.
“Ini menunjukkan ancaman spam dan scam terus meningkat sehingga perlindungan bagi pengguna layanan telekomunikasi perlu diperkuat,” kata Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, dalam keterangan resmi, Kamis (2/7/2026).
Menurut Nezar, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuat modus penipuan semakin sulit dikenali. Pelaku kini dapat meniru suara seseorang, termasuk suara pejabat, sehingga meningkatkan risiko masyarakat menjadi korban.
Baca juga:
- Love Scam Libatkan WN China Dibongkar Imigrasi Bandara Soetta
- Info OTT KPK Diduga Bocor, Bupati dan Sekda Kuansing Sempat Menghilang
Ia menilai kelompok lanjut usia (lansia) merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terhadap kejahatan tersebut.
“Para lansia kasihan. Scam yang paling bahaya dengan menelepon sebagai orang lain. Sekarang makin canggih karena bisa meniru suara orang bahkan meniru suara-suara pejabat pakai AI. Dia ketik teksnya, terus tinggal diputar ulang,” kata Nezar.
Guna menekan kerugian akibat scam yang terus meningkat, Kemenkomdigi mendorong seluruh operator telekomunikasi menyediakan fitur anti-scam, baik dalam bentuk aplikasi maupun teknologi pengamanan lainnya.
“Pemerintah mendorong seluruh perusahaan telekomunikasi melindungi konsumen dengan fitur anti-scam, baik dalam bentuk aplikasi atau bentuk lain,” ujar Nezar.
Penulis: CR-01
Editor: M. Hasyim
Foto: Istimewa


