
JAKARTA, 1kata.com – Untuk mendukung pengembangan energi nuklir nasional, termasuk rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama yang ditargetkan beroperasi pada 2032, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan kebutuhan sekitar 200 peneliti baru di bidang nuklir.
Menurut Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, kebutuhan itu muncul seiring meningkatnya kebutuhan talenta riset dan teknologi untuk memperkuat ekosistem ketenaganukliran di Indonesia.
“Kami memproyeksikan kebutuhan hampir 200 peneliti baru di bidang kenukliran untuk mendukung pengembangan riset dan teknologi ke depan,” kata Edy, dalam keterangan di Jakarta, Rabu (11/3/202).
Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), lanjutnya, menjadi faktor penting dalam menyiapkan Indonesia memasuki era energi nuklir, terutama untuk mendukung tahapan riset, pengembangan teknologi, hingga operasional pembangkit di masa depan.
Namun ia mengakui, upaya memenuhi kebutuhan SDM nuklir bukan hal mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah masih terbatasnya minat talenta muda untuk berkarier di bidang riset nuklir.
Edy menyebut bahkan lulusan pendidikan di bidang nuklir pun tidak semuanya memilih untuk melanjutkan karier sebagai peneliti di sektor tersebut.
Selain keterbatasan jumlah talenta, BRIN juga menilai perlu memperkuat link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri nuklir. Menurut Edy, sektor ini tidak hanya membutuhkan lulusan dengan ijazah akademik, tetapi juga kompetensi teknis yang terstandar dan diakui industri.
Karena itu BRIN mendorong penyusunan standar kompetensi kerja nasional di bidang nuklir agar kompetensi yang dihasilkan dari dunia pendidikan dapat sesuai dengan kebutuhan industri.
Penulis: CR-17
Editor: m.hasyim
Foto: istimewa


