Koperasi Harus Dikelola Secara Modern

JAKARTA, 1kata.com – Peneliti Ahli Utama Kemenkop dan UKM Johnny Walker Situmorang mengungkapkan meski pembangunan koperasi telah berlangsung selama 73 tahun, namun koperasi dinilai belum bisa menjadi kekuatan utama dan soko guru perekonomian Indonesia.

“Hasil riset kami mengungkapkan, Indeks Pembangunan Koperasi (IPK) Indonesia tahun 2019 hanya 2,08 persen. Artinya kontribusi koperasi dalam pembangunan di 2019 hanya 2,08 persen,” ujar Johnny Walker Situmorang, dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10/2020).

Sebelumhya, Johnny Walker Situmorang menjadi salah satua pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengkajian Program Pengembangan Koperasi bertema “Peran Koperasi dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia” di Bekasi, Rabu (30/9/2020).

Johnny menjelaskan belum mampunya koperasi menjadi soko guru perekonomian itu antara lain disebabkan koperasi lemah dalam penerapan prinsip-prinsip koperasi dan masih rendahnya persentase Rapat Anggota Tahunan (RAT), dimana tahun 2019 hanya mencapai 33,99 persen.

Sedangkan sepanjang 2015-2019 rata-rata persentase koperasi yang melakukan RAT lebih rendah lagi yaitu hanya 25,06 persen.

Data KemenkopUKM menunjukkan jumlah koperasi pada 2019 mencapai 123.048 unit dengan anggota sebanyak 20,45 juta, aset sebesar Rp136,17 triliun dan volume usaha Rp136,97 triliun.

Sementara itu Asdep Tatalaksana Koperasi Dr Hanafiah mengatakan, agar mampu bersaing apalagi di tengah wabah pandemi Covid-19 ini, koperasi konvensional harus berubah menjadi koperasi modern yang mampu mengaplikasikan teknologi digital.

Bahkan kalau perlu koperasi bisa menjadi aggregator yang menghubungkan konsumen dengan produsen melalui layanan aplikasi.

“Koperasi juga dibolehkan mengelola bisnis seperti swasta semisal perhotelan, SPBU, perkebunan kelapa sawit. Kita menargetkan pada 2024 akan ada 500 koperasi modern,’ kata Hanafiah.

Sumber: jaka
Editor: m.hasyim
Foto: 1kata.com

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below